Wednesday, November 11, 2009

Cari Informasi Cuaca di Tanah Suci


Jika kita dapat mengetahui informasi cuaca ditanah suci saat ini, mungkin dapat membantu kita dalam mempersiapkan perbekalan menghadapi musim yang tengah berlangsung disana. Sepanjang penyelenggaraan Ibadah Haji, cuaca di Madinah, Muzdalifah dan Mina memang cenderung dingin bahkan ekstrem dingin. Sedangkan cuaca di Makkah dan Arafah cenderung panas.
Sebelum keberangkatan Anda ke tanah suci, jika ingin mengetahui keadaan cuaca dalam satu minggu ini, maka Anda dapat memanfaatkan fasilitas ramalan cuaca dari google atau yahoo.
Caranya Anda ketikkan: [nama kota], [nama negara] weather pada bagian serach engine.
Contohnya : madinah, Saudi Arabia weather
maka mesin pencari akan memberikan informasi langsung tentang keadaan cuaca disana. Info yang didapat adalah SUHU Udara, Kecepatan Angin, Kelembaban udara, kondisi yang ada (cerah, Hujan, Berawan, Kabut Polusi, dsb), serta prediksi apakah siang,malam,pagi hari akan : hujan, berawan, cerah.
Anda juga bisa mencobanya untuk kota dan negara lain di dunia ini.
Salam

Sunday, November 8, 2009

Bahagianya Ibunda Jika Bisa Menunaikan Ibadah Haji

Emak Ingin Naik Haji yang merupakan judul dari sebuah film religi yang saat ini tengah menjadi perbincangan di masyarakat Indonesia. Tayangan perdana film ini, khabarnya dimulai tanggal 12 November 2009 ini. Judul yang diangkat menurut saya masih relevan dengan keberadaan blog ini. Namun saya tidak mengulas isi cerita dari film ini, karena saya sendiripun belum pernah menyaksikan tontonan ini. Iseng-iseng, coba melihat trailer film ini di youtube. Kurang lebih menceritakan seorang wanita tua yang punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji. Si Emak berusaha merealisasikan niatnya melalui upaya menabung yang dalam 5 tahun tabungannya baru mencapai 5 juta rupiah. Emak sedikit mulai menerawang, jika ingin mencukupi menjadi 20 juta tentunya harus menunggu 15 tahun lagi. mengingat umurnya yang sudah lanjut, apa masih ada umur ...untuk melaksanakan haji.

Judul cerita film ini sekedar mengingatkan saya ketika di tahun 1993 silam pernah memberangkatkan Ibu kandung dan Ibu mertua saya ke tanah suci.
Ceritanya saat itu saya sedang kuliah ikatan dinas yang dipercayakan oleh perusahaan saya di Bandung, setelah saya bekerja selama 6 tahun dengan ikatan dinas yang pertama kali. Yang namanya lagi sekolah tentunya penghasilan yang diperoleh sangat terbatas, sehingga harus pandai-pandai mengatur keuangan rumah tangga. Waktu itu penghasilan saya kurang lebih 725 ribu rupiah, dan penghasilan ini harus dibagi untuk bayar cicilan rumah 278.500, beli susu anak ( S26 sampai Formil) yang harganya cukup lumayan mahal, dan pengeluaran lain. Tetapi Alhamdulillah rezeki yang ada cukup membuat hidup kami bahagia. Suatu ketika, saya menelpon Ibu kandung dan Ibu mertua saya dengan menanyakan apakah beliau mau menunaikan ibadah haji. Yang namanya orang tua ditanya begitu langsung merespons mau, cuma darimana biayanya. Tanpa saya sadari, saya menjawab bahwa biaya ibadah haji mereka saya yang nanggungnya, cuma untuk uang jajan / bekal lain saya tidak bisa memberi lagi. Jika Ibu dan Ibu mertua berminat maka segeralah mengurus dokumen pendaftarannya melalui saudara yang lain, karena kebetulan saya sedang sekolah di Bandung sedangkan kedua orang tua di Palembang. Dengan kepastian uang berangkat menjadi tanggungan saya, ternyata mereka segera membuat pendaftaran, kala itu pendaftaran haji tidak seperti sekarang yang harus menunggu sampai 3 dan 4 tahun kedepan baru bisa berangkat. Dahulu begitu kita buka pendaftaran sekarang maka akan berangkat tahun itu juga. BPIH tahun itu sekitar 8,6 juta rupiah berarti untuk 2 orang sekitar 17,2 juta rupiah.
Yang jadi permasalahan kemudian adalah darimana saya memperoleh uang yang saya janjikan tersebut dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun sedangkan saya sedang tugas belajar. Saya menjadi termenung juga, bagaimana saya bisa berjanji mau memberangkatkan orang tua sedangkan saya saat itu tidak punya tabungan yang cukup, usaha lain/dagang dan lain-lain juga tidak ada. Simpanan barang berharga juga tidak punya, hanya 1 buah sepeda motor Honda C-800 yang juga sudah tua malah rekan-rekan saya suka menjuluki BMW ( Bebek Merah Warnanya, karena sepeda motor tsb memang berwarana merah). Akhirnya saya pasrahkan kepada Allah, Zat yang memberi rezeki semoga Allah membukakan pintu-pintu rezekinya, karena saya yakin janji saya yang tanpa sadari tentunya merupakan scenario Allah untuk kedua orang tua saya tersebut. Subhanallah, Allah memang berkuasa atas segalanya yang kita sebagai hambaNya terkadang tidak menyadari bagaimana Allah membukakan pintu-pintu rezekinya. Batas waktu pembayaran pelunasan ibadah haji bisa terpenuhi, walaupun kami tidak bisa pulang kampung untuk ikut mengantar keberangkatan mereka karena keterbatsan dana yang ada. Hanya saja kami mengucapkan rasa syukur atas kemurahan rezeki yang kalau dipikirkan secara nalar sulit untuk mempercayainya. Tentunya dengan memberangkatkan orang tua ke tanah suci bukanlah akhir dari segala bakti kami sebagai anak yang dilahirkannya, tetapi minimal inilah sedikit cinta kami agar orang tua bisa mendapatkan kebahagiaannya. Kurang lebih 1 tahun dari kepulangan haji, Ibu mertua saya dipanggil Yang Maha Kuasa inilah takdir Allah tetapi kami bersyukur diakhir-akhir hidupnya Allah masih memberi kesempatan untuk berhaji.


Menggendong Ibu saat Tawaf

Cerita di atas semoga menginspirasi Anda untuk bersegera menunaikan ibadah haji, InsyaAllah jika kita telah berniat untuk menunaikannya Allah dengan mudah membukakan pintu-pintu rezeki kepada kita tanpa kita sadari dan jika Anda memiliki dana lebih alangkah baiknya bisa juga kiranya memberangkatkan kedua orang tua kita. Hal yang saya lakukan adalah hal kecil jika dibandingkan apa yang pernah saya saksikan sendiri tentang bakti seorang anak kepada ibundanya di tanah suci. Saya hanya mampu menyediakan dana saja untuk memberangkatkan orang tua kami, tetapi hal luar biasa yang saya saksikan dan mungkin tidak akan mampu saya lakukan dari seorang laki-laki yang bisa membimbing ibundanya ditanah suci.
Ketika saya menunaikan ibadah haji di tahun 2003, saat itu saya sedang dilantai 2 masjidil haram untuk menunggu waktu sholat Dhuhur atau Ashar saya lupa. Tiba-tiba saya menyaksikan pemandangan didepan saya, seorang laki-laki sedang menggendong Ibunya dalam melaksanakan Tawaf. Anda bisa bayangkan lintasan tawaf di lantai atas masjidil haram sangatlah panjang (perbandingannya mungkin 1 lintasan di lantai-2 atau di atasnya akan sama dengan 4 bahkan lima kali 1 lintasan di lantai I dekat ka'bah). Apalagi ditambah dengan beban yang harus dia gendong, padahal laki-laki yang menggendong ini badannya tidaklah terlalu kekar. Subhanallah, semoga Allah memberikan balasan jannah kepada anak yang bisa berbakti ini. Jika kita memiliki uang yang cukup mungkin tidaklah sulit untuk bisa menyewa sebuah kursi roda, tetapi keterbatasan uang bukanlah menjadi penghalang bagi siapapun untuk dapat beramal shaleh. Keterbatasan uang bahkan mendatangkan ridho Allah yang begitu besar.
Jika Anda masih memiliki orang tua yang masih hidup, sekaranglah kesempatan Anda untuk memberikan kasih sayang, dan kebahagian tiada terkira jika mereka bisa menunaikan ibadah haji dari hasil rezeki anak-anaknya.
Jangan buang kesempatan yang ada Saudaraku, bersegeralah untuk memenuhi panggilan-Nya. dan Allah akan mengganti semua biaya yang kita keluarkan untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima ini. Dan yang lebih penting lagi adalah balasan surga yang dijanjikan.
Didalam hadits Riwayat Sunan Tirmidzi ” ‘an Abi huroirota qola qola Rosulullohi Solallohu ‘alaihi wa salam al-umrotu ilal ‘umroti tukaf-firu ma baina huma wal haj-jul mab ruru laisa lahu jazaaun il-lal jan-natu”

Dari Abi Huroiroh (dia) berkata (bahwa) bersabda Rosululohi semoga Alloh memberikan rohmat dan salam atas Beliau Nabi, (adapun ) umroh sampai umroh (itu) melebur apa-apa yang ada di antara keduanya, dan haji mabrur (yang baik) tidak ada pembalasan kecuali surga”





Kerinduan seorang muslim untuk dapat menunaikan ibadah haji tergambar dalam tanyangan file "Emak Ingin Naik Haji" yang diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama (harga buku 40.000 rupiah). Sekilas ulasan cerita dalam penuturan di buku tersebut :
Sekumpulan cerita pendek pilihan Asma Nadia dalam buku ini, hampir semuanya mampu menggedor sisi kepekaan pembaca. Meski mungkin saja ketika baca judulnya kita bertanya-tanya, apa sih istimewanya kalau Si Emak kepengen pergi haji?
Dari gaya tuturnya yang lincah melompat-lompat, kita serasa diajak berkeliling dari lokasi dan adegan satu ke lokasi dan adegan yang lain. Lumayan filmis gitu. Yang bikin rada-rada trenyuh, Asma menampilkan sosok Emak yang tua, polos, sederhana juga miskin tapi pengeeen banget naik haji dan nyicip air zam-zam sangat ironis sama tokoh Juragan Haji. Si juragan yang merupakan tetangga terdekat Emak ini, bolak-balik naik haji. Saking tajirnya, pergi haji selalu sama-sama istri dan bahkan pernah membawa 22 orang sanak keluarga. Sementara, anak tunggal si Emak, Zein (pelukis dan pedagang kaligrafi) ingin bisa mewujudkan impian ibunya itu. Sayang, Zein sempat kepleset dalam bertindak ...
Polosnya Emak, tergambar dalam dialog dengan anaknya.
"Kalau jalan kaki (ke Mekkah, red), berapa jauh Zein?"
"Jaman sekarang kagak mungkin, Mak."
"Masjidnya bagus di sono, ya Zein? Lampunya banyak," Emak terkekeh.
"Eh, berape sekarang ongkosnya, Zein?"

Selain tokoh sentral ibu beranak itu, ada juga tokoh lain seperti seorang anggota dewan yang doyan selingkuh sama sekretarisnya. Dia mau naik haji demi mendapat gelar yang bisa mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan, istri si anggota dewan itu dan Sri, anak Juragan Haji. Gimana keplesetnya Zein dalam bertindak, dan ending cerpen ini, tentu lebih seru kalau diungkap sendiri.
Di film ini ada background song dari Hadad Alwi, jika mau mendengarkan lagu dengan judul Pergi Haji feat Ashila bisa diunduh disini.

Friday, November 6, 2009

Sholat Jenazah di Tanah Suci

Setiap yang bernyawa pasti akan mati, kematian itu akan datang tanpa kita ketahui dan dimana kita akan mati. Dalam pelaksanaan ibadah haji, hampir disetiap waktu sholat fardhu kita mempunyai kesempatan untuk mensholatkan jenazah Saudara-saudara kita yang telah dipanggil oleh-Nya. Kemudian, timbul pemikiran bahwa setiap JCH yang meninggal di tanah suci pasti akan disholatkan di masjidil haram atau masjid nabawi. Ternyata pemikiran ini keliru, karena untuk bisa disholatkan dimasjidil haram dan masjid Nabawi perlu mekanisme yang tidak sederhana disamping memerlukan biaya yang tidak sedikit ( antara 1000 sampai 2500 Rls per jamaah yang meninggal). Pengurusan jenazah yang akan disholatkan di dua masjid agung tersebut biasanya melalui makhtab, maktab adalah unit usaha swasta yang mendapat izin untuk mengelola akomodasi jamaah haji selama di Tanah Suci. Terkadang akan timbul permasalahan, makhtab terkesan memanfaatkan peluang musibah ini. Untuk itu ketika mengurus pensholatan jenazah ini harus dipastikan biaya yang dikeluarkan untuk apa aja, yang sering terjadi jemaah sudah bayar 1000 Rls tetapi keluarga yang meninggal diminta menggotong sendiri mayatnya ke masjidil haram dan kemudian untuk urusan pemakaman minta biaya lagi.


Bagi JCH yang ingin terus menambah amalan sholehnya selama di tanah suci, maka mensholatkan jenazah merupakan salah satu ladang amal itu. Jangan sia-siakan kesempatan untuk ikut mensholatkan jenazah disana. Jadi alangkah baiknya disamping ilmu manasik haji diperdalami, kita bekali diri kita juga dengan ilmu mensholati jenazah.

Tuesday, November 3, 2009

VCD Pelajaran Manasik Haji & Umrah

Manasik Haji

Jamaah yang akan menunaikan rukun Islam kelima itu tentunya menginginkan ibadah yang dijalankan itu bisa sempurna dan bisa mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tak banyak, jamaah haji yang bisa memiliki kesadaran untuk melakukan ibadah haji dengan sempurna, hal itu disebabkan kurang pemahaman akan makna ibadah haji. Oleh karena itu bimbingan manasik perlu dimantapkan oleh setiap jamaah haji baik pada saat di tanah air maupun ketika berada di tanah suci.
Negara Lain sudah Memanfaatkan Teknologi untuk manasik haji

Teknologi Informasi saat ini dapat juga dimanfaatkan untuk proses deseminasi baik yang positip maupun negatip tergantung niat dan tujuan kita memanfaatkannya. Di negara lain, pemanfaatan teknologi informasi sudah dilakukan untuk menjelasakan manasik haji. Di Indonesia sangat jarang ditemui pemberi materi di KBIH ada yang memanfaatkan teknologi ini. Pemberi materi masih menggunakan metode ceramah, dimana audience atau peserta manasik haji sulit menangkap makusd sipembicara. Sebagai contoh di Malaysia beberapa kegiatan manasik haji sangat mudah dipahami oleh peserta dengan adanya fasilitas whiteboard, in focus untuk menampilkan materi ceramah dari komputer. Dulu waktu saya mengikuti manasik haji di KBIH Muhammadiyah di Medan, saya membantu memfasilitasi pertemuan manasik dengan in focus dan laptop dan ini sangat membantu JCH dalam memahami materi, JCH bisa membayangkan bagaimana suasana tawaf,sa'ie, bentuk bangunan, dan lain-lain.
Nah, bagi Anda yang sibuk untuk dapat mengikuti bimbingan haji / manasik haji secara langsung atau bagi Anda yang ingin menambah ilmu manasik haji sebagai persiapan nantinya ketika berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji Anda siap menjadi haji yang mandiri, mengerti hukum-hukum di dalam berhaji dapat memanfaatkan rekaman-rekaman manasik haji melalui video karena terkadang ada juga yang malas baca-baca buku apalgi kalau orang tua kita yang akan jadi JCH, rasanya susah juga kalau disuruh cari referensi bahan bacaan.
Jika Anda tertarik untuk mempelajarinya secara digital, maka video tutorial "Manasik Haji Nabi SAW" yang dibawakan oleh Ust. Syed Nazmi Tuan Taufek dari Malaysia yang saat ini sudah diupload di situs youtube menurut saya sangat bagus (kalau saya perhatikan bahasan materinya seperti periwayatan manasik haji Rasulullah berdasarkan hadist Jabir). Video ini dapat Anda dilihat atau didownload di situs youtube.com. Walaupun menggunakan bahasa malaysia namun saya yakin Anda dapat memahaminya karena bahasa ini merupakan bahasa melayu.
Video ini sudah diupload di youtube dalam beberapa seri, berminat silahkan download di link berikut :
1. Intro
2. Muqadimmah

Semua file di atas jika Anda kreatif maka dapat dijadikan VCD atau DVD sehingga dapat dipelajari secara simultan. File-file dalam format flv di atas dapat digabung menggunakan software freeware yang lumayan cukup bagus, Namanya FLV Binder. Software ini ukurannya kecil (101 kb - zip file) dan bisa diunduh di http://www.flvsoft.com/bind_flv/. Jika akan dibuat VCD atau DVD harus Anda konversi ke dalam MPEG atau AVI agar bisa di BURN ke cakram VCD atau DVD dengan menggunakan sofware sederhana Format Factory 1.06 yang dapat diunduh di http://www.formatoz.com. Saya sudah "Burn" ke dalam VCD atau DVD sehingga bisa disimak lebih enak lagi dengan fasilitas video player yang dapat ditonton bersama keluarga atau sebagai bekal orang tua kita yang akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini. Andapun dapat memperkaya pendalaman ilmu mansik haji dan umrah melalui tayangan video dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin melalui postingan saya disini.

Sunday, November 1, 2009

Menyiasati Makanan selama di Tanah Suci........

Keebab
Makanan sering menjadi persoalan bagi jamaah haji. Jemaah haji akan berada cukup lama di Tanah Suci. Sehingga jika persoalan makan tak diperhatikan, tentunya akan berdampak bagi kondisi kesehatan. Jika kesehatan memburuk sudah tentu ibadah akan terganggu. Persoalan makan mulai timbul sejak masuk di asrama haji, berlanjut di bandara, selama perjalanan ke Madinah dan Makkah, hingga sampai ditempat tujuan.
Di asrama haji embarkasi Palembang (Tahun 1427 H mulai menjadi embarkasi haji pertama kalinya), masih banyak jemaah yang terlambat mendapat jatah makan. Di bandara, bisa terjadi jamaah harus menunggu berjam-jam hal ini terjadi saat kami akan pulang ke Indonesia dimana tidak mendapat jatah makan dan baru mendapat makan ketika sudah terbang. Sedangkan dalam perjalanan dari Jeddah ke Madinah ketika berhenti di Wadi Qudaid, saat ini sudah tidak ada jatah makan lagi dan lagi ditempat pemberhentian ini tidak menjual makanan seperti nasi, paling hanya teh,kopi dan susu itupun kita beli sendiri.
Sarapan pagi dengan Donut..ada koq.

Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan itu, sebaiknya tiap jamaah bisa menyediakan makanan kecil di tas tentengannya masing-masing. Jamaah bisa membawa persediaan biskuit, roti, kacang-kacangan, dan minuman kotak.

Packaging catering di Madinah

Selama di Tanah Suci jamaah bisa membeli makanan atau memasak sendiri (namun sebaiknya untuk lebih konsentrasi ke ibadah, tidak usah ada kegiatan masak memasak). Makanan jadi (siap santap) mudah didapat di Madinah dan Makkah. Kalau di Madinah, jemaah haji saat ini mendapat jatah makan sebanyak 2 kali dalam sehari (makan siang dan makan malam). Teorinya begitu, tapi di lapangan banyak teori tak sesuai kenyataan. Kendala yang sering muncul dimana waktu datang makanan ini tak selalu tepat. Makan siang kadang datang molor hingga pukul 16.00. Makan malam, ada yang baru datang pukul 21.00. Tak hanya soal waktu kedatangan, menunya pun kadang bikin keki. Bersiaplah untuk mendapat menu nasi, buncis, daging kambing, atau ayam berulang-ulang. Soal rasa, jangan tanya. Yang penting dimakan saja. Namun kalau merasa bosan, banyak yang menjual aneka makanan dari berbagai roti sampai nasi plus lauk pauknya. Yang celakanya catering haji ini ada batas waktu penyajian, terkadang jamaah mendapat jatah makan yang sudah memasuki injury time sehingga bisa menimbulkan penyakit (hati-hati kalau sajian makanan sejenis daging yang sudah menunjukkan tanda berbusa, walaupun sajian tsb Anda terima dalam keadaan hangat tetapi sebenarnya makanan tsb sudah rusak. Hal ini pernah dialami jamaah kami sehingga menimbulkan sakit perut).
Belanja makan di Restoran Indonesia

Berbagai Jenis Menu Indonesia (1 porsi lengkap mulai dari 5 s/d 10 Rls)

Mau menu lainnya....tinggal pilih (bungkus lalu bayar di kasir)


Kalau di Mekkah banyak kita jumpai pedagang TKW Indonesia yang menawarkan makanan disepanjang jalan yang kita lalui bahkan sampai ke depan pintu penginapan. Harganya cukup murah nasi putih 1 riyal, ikan 1 riyal, ayam 3 riyal, rata2 sayuran (asem,soto,sop,dll) harganya 1 riyal. (satu riyal sekitar Rp 2.600). Namun pengalaman saya beli makanan di pedagang TKW pada musim haji tahun ini cukup mengecewakan, karena mereka menjual makanan seenaknya saja, disamping ukurannya sedikit juga tidak berkualitas (bahan makanan yg sdh tidak laku kemarin masih dijual lagi) ini terjadi hampir disemua penjual disepanjang jalan menuju Hafair. Padahal waktu haji tahun 2003 sebelumnya di wilayah Azijiyah para pedagang ini menjual dagangan yang cukup memuaskan.
Kapok dengan penyajian dari penjual TKW, kami mencoba beli makanan di warung / restoran Indonesia, kalau di wilayah Hafair ada warung Indonesia khas Jakarta, Madura, Bogor. harganya ternyata malah lebih murah dibanding kalau kita beli di kaki lima atau di si mbak dipinggir jalan tadi, kelebihan lain makanan juga masih fresh, menunya macem-macem (soto, sop, kari, sate,bakso,dll) serasa kita di Indonesia sehingga dengan kondisi makanan yang terjamin bisa menghindarkan kita dari penyakit diare yang mungkin dapat menyerang kita ketika kondisi tubuh sedang menurun.


Nasi Briyani

Atau mau coba nasi Mandi

Kalau mau variasi kita bisa juga mencoba makan masakan Arab, seperti : nasi kebuli / nasi briyani, kebab, panggang sapi/ ayam, kambing juga ada atau mau yang ala India sepeti roti cane, martabak india, kare kambing,sop kambing. Harganya di atas 5 riyal. Ingat sebelum makan ketahui dulu secara pasti berapa harganya, untuk itu jangan segan-segan menanyakan ke pelayan resto tersebut.

Jatah Makan di Mina

Selama di Arafah dan Mina, makanan disediakan. Namun pada musim Haji 1427 H memang terjadi kendala pendistribusian. Musibah itulah salah satu kata yg menghiasi media pada pelaksanaan Ibadah Haji 1427 H. Berita kelaparan seputar pelaksanaan haji ARMINA (Arafah, Mina dan Musdalifah) menjadi bahan ulasan dari media elektronik dan cetak di Indonesia. Beragam pengalaman yang bisa kita dengar akan diekspresikan oleh saudara-saudara kita yang baru pulang dari pelaksanaan haji.

Kebetulan sebelum ke Arafah saya dan rombongan berjumlah 13 orang menuju ke Mina terlebih dahulu untuk mabit disana, kami lihat makanan yang dimasak di Mina memang banyak yang tidak terkirim sehingga banyak mubazir. Hal inilah yg menyebabkan banyak jemaah haji yang tidak mendapat jatah makanan sampai masuk ke Muzdalifahpun belum ada pembagian jatah makan. Alhamdulillah kami sudah membawa bekal baik roti maupun nasi dari Mekkah karena memang kami berpisah dari rombongan besar sehingga kami tidak terlalu merasakan kelaparan seperti saudara-saudara kami yang lain. Namun para jemaah kami lihat sangat tabah dalam menerima cobaan ini, karena semua yakin Allah akan mengganti dengan yang lebih baik jika kita mampu ikhlas menerimanya, tentu....haji 1427H ditetapkan sebagai haji akbar, sama seperti pelaksanaan hajinya Rasulullah (wukuf bertepatan hari jum'at) tentunya ini juga faktor yang membuat kesabaran jemaah haji cukup tinggi.
Dalam perjalanan ARMINA, jangan lupa membawa makanan kecil karena sangat mungkin perjalanan ke Arafah dan kembali ke Mina memakan waktu lama. Jika jamaah ke Arafah dengan jalan kaki, jangan lupa bekali tas ransel dengan makanan dan minuman serta buah-buahan, mengantisipasi kesulitan mendapat makan di jalan. Pengalaman waktu haji 1426H banyak jamaah haji dari Indonesia yang kelaparan, Alhamdulillah kami yang pisah dari rombongan dengan antisipasi bekal seperti ini, tidak mengalami kelaparan sebagaimana yg dialami saudara-saudara kita yang lain.
Selama di Tanah suci bila tidak ingin memasak jamaah haji bisa membawa makanan yang tahan lama dari Tanah Air. Misalnya rendang, abon, dendeng, sambal goreng kacang, kecap, mie instant, saus tomat atau sambal sachet atau makanan lainnya sesuai khas dari masing-masing daerah (kalau dari Palembang anda bisa bawa cuko kental, bisa beli yg sudah jadi di toko kerupuk, nanti disana tinggal ditambah air, cuko ini bisa jadi teman makan bala-bala yang mudah didapat kalau mau beli disana). Makanan khas Tanah Air ini sangat membantu untuk mempertahankan nafsu makan. Kita beribadah kalau logistik menunjang kan ibdah jadi lancar juga.
Kalau ingin memasak sebaiknya beli peralatan masak disana saja. Barang-barang itu bisa mudah didapatkan di Tanah Suci. Sia-sia saja memasukkan perlengkapan tersebut ke dalam koper, karena pasti nanti akan dirazia di embarkasi dan lagi akan menambah beban barang bawaan kita aja. Bahan-bahan masakan juga bisa didapat dengan mudah di Makkah maupun Madinah. Sayuran, beras, buah, telur, ikan, daging, bisa mudah dibeli. Ada baiknya bumbu dibawa dari Tanah Air. Kalau saranku sih, dengan informasi mudahnya memperoleh makanan selama di atanah suci, ngga usah repot-repot masak deh..beli aja di resto Indonesia (jangan di mbak-mbak yang jualan dipinggir jalan karena harganya hampir sama koq. bahkan cenderung mahal). Konsentrasikan tenaga dan pikiran kita selama di tanah suci hanya untuk keperluan Ibadah daripada harus ribet dengan acara masak memasak. Lagian Living Cost yang dikembalikan ke jamaah sebesar 1500 Riyals sudah lebih dari cukup untuk keperluan makan di sana(udah termasuk bayar Dam lagi, untuk amannya pisahkan dulu uang untuk bayar dam dengan keperluan makan kalau perlu bayarkan di awal ke ketua rombongan uang Dam tsb sehingga tidak jadi pikiran lagi). Untuk jamaah ONH Plus, makanan sepertinya tak menjadi persoalan. Hanya saja kadang-kadang makanan jatah jamaah haji yang diberikan selama di Madinah dan Arafah, Mina rasanya tak selalu cocok dengan lidah orang Indonesia. Jadi jangan bayangkan soto selalu berasa soto seperti yang biasa dimakan di Tanah Air. (source photo :yayansuyanto)

Thursday, October 29, 2009

Video Bimbingan Manasik Haji & Umrah - 2



VCD pembelajaran manasik haji dalam bentuk manasik klasikal sudah saya infokan kehadapan Anda (lihat kembali disini) .Untuk semakin memantapkan pengetahuan Anda tentang manasik haji, saya share juga rekaman video lainnya yang di sampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Melalui pembahasan materi "Bimbingan Manasik Haji dan Umrah". Dimana narasi yang dibawakan sudah menggunakan sudah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Untuk download silakan klik file dibawah ini menuju link penempatan file-file tersebut,

Atau bisa Anda akses melalui sumbernya langsung di http://www.multimedia.kisahislam.com

Tidak salahnya Anda juga membekali diri dengan bahan bacaan tentang manasik haji dan umrah :

1. Buku Haji dan Umrah seperti Rsulullah SAW, yang ditulis oleh Syaikh.Nasiruddin Al-Albany

2. Panduan Manasik Haji

Mengenal Fasilitas Umum di Tanah Suci

Ketika berada di tanah suci tentuya Anda memerlukan adaptasi dengan peralatan umum yang disediakan dalam rangka menunjang pelaksanaan ibadah haji. Beberapa fasilitas atau informasi yang ada di sana baik itu yang disediakan di dalam masjid, di Arafah dan Mina, tentunya masih asing bagi JCH, walaupun nampaknya merupakan hal sepele tetapi bisa jadi karena kita tidak peduli malah dapat mengakibatkan kendala bagi kita. Kali ini saya akan memberikan info serta tips sedikit kepada Anda dalam memahami informasi dan fasilitas yang sering Anda temui di sana.

I. Di Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).



Fasilitas yang pasti Anda gunakan adalah Toilet/Kamar Mandi. Pada gbr. dibawah saya tunjukkan kondisi kamar mandi tsb. Kloset yang ada sedikit berbeda dengan yang biasa kita temui, dimana kloset disana pembuangannya langsung (tidak ada leher bebeknya). Kondisi design seperti ini perlu Anda waspadai terhadap barang-barang bawaan Anda seperti HP, Camera,jam tangan atau benda-benda kecil lain yang Anda bawa, karena begitu terjatuh kedalam lobang kloset maka langsung hilang tanpa bisa kita selamatkan lagi. Dengan toilet seperti ini, kita juga diajarkan untuk bisa menerapkan sunnah Rasul dalam membuang hajat, biasanya kan kalau di tanah air tempat buang air kecil yang disediakan di masjid-masjid posisinya untuk berdiri (seharusnya panitia pembangunan masjid memperhatikan hal-hal seperti ini). Kamar mandi ini juga dilengkapi dengan kran untuk mandi, untuk itu perlu diperhatikan dalam membuka kran baik untuk mandi ataupun membersihkan hadas, membukanya pelan-pelan karena tekanan air yang ada dimasjidil haram dan masjid nabawi sangat kencang. Untuk berhadas digunakan selang dari kran bagian bawah, jika kita tidak hati-hati dalam membuka kran maka bisa jadi badan Anda akan terkena kotoran semua (hal ini pernah terjadi pada JCH yang kurang memahami cara penggunaan peralatan yang ada). Kalau sudah begini kan, akan menghambat proses ibadah sholat Anda, untuk pulang ke makhtab jaraknya juga jauh. Kamar mandi yang disediakan cukup banyak, tetapi tetap saja Anda harus antri panjang karena pada waktu-waktu menjelang dan bubaran sholat akan sangat banyak pengguna. untuk satu kamar mandi bisa mengantri 6 sampai 7 jamaah. Anda harus pandai melihat situasi, mana antrian yang bakal lama mana yang cepat pergerakannya. Feeling Anda harus main, lihat wajah-wajah jamaah karena yang ke kamar mandi terkadang ada yang sekalian buang hajat besar atau bahkan ada yang mandi. Jadi tetap makan pil Kesabaran Anda.



Tempat Wudhu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi


Fasilitas lainnya di dalam masjid adalah tempat wudhu. Tempat wudhu disediakan cukup banyak, dan didesign cukup nyaman untuk kita berwudhu dengan sempuran. Tempat wudhu dibuat tempat duduknya, dan ini sangat membantu bagi jamaah yang usia lanjut agar tidak jatuh dan capek. Cuma terkadang jamaah yang tidak mengerti fungsi tempat duduk malah dipakai jongkok ditempat itu, jadilah tempat duduk tersebut basah, jadi perlu Anda periksa dulu apakah tempat duduk wudhu itu kering atau basah agar pakaian Anda tidak ikut basah karenanya. Bukalah kran air wudhu secukupnya, jangan berlebihan karena Allah tidak menyukai yang berlebih lebihan.



Tempat Minum Air Zamzam di dalam masjidil haram


Di Masjidil haram terdapat container tempat minum Air zamzam, namun penggunaannya terkadang tidak sesuai dengan fungsinya. Jamaah yang sudah berada dalam masjid terkadang memanfaatkannya untuk tempat wudhu, hitung-hitung menghemat tenaga kalau harus ke tempat wudhu yang letaknya diluar masjid, cuma lagi-lagi kaum akhwat sering tidak mengindahkan dimana tempat untuk laki-laki dan wanita (jelas-jelas tertulis men only, tetapi tetep aja ikutan disitu).

Tempat penitipan sandal/sepatu di halaman masjidil haram


II. Di Arafah dan Mina



Antrian Menggunakan Kamar Mandi Di Arafah

Kamar mandi di Arafah dan Mina jumlahnya sangat terbatas. Sehingga Anda harus pandai menyiasati kapan kekamar mandi. Gunakanlah pada waktu diluar peak session karena kalau mendekati waktu sholat fardhu antriannya cukup panjang juga. Kesabaran tetap harus diutamakan, karena seringkali terjadi cekcok antar jamaah akibat ketidak mengertian akan aturan antri. Jika memang ada jamaah yang sangat membutuhkan karena tidak kuat menahan lagi, sebaiknya Anda beri kesempatan dia terlebih dahulu. Memudahkan urusan orang lain, InsyaAllah, Anda akan diberi kemudahan juga dilain persoalan. Kamar mandi di Mina relatif lebih baik dibanding dengan di Arafah.

Jika masih dalam keadaan ihram, sebaiknya pakaian ihram dimasukkan dalam kantong plastik baru digantungkan di cantolan kamar mandi, hal ini untuk antisipasi kain terjatuh ke lantai dan terkena najis yang dapat menjadi kendala pelaksanaan sholat Anda. Kamar mandi juga dinding bagian bawah tidak tertutup rapat sehingga kalau tetangga disebelah tidak mengerti membuka kran air bisa menciprat kekamar mandi kita melalui pantulan air kelantai.

Antrian Mengambil Wudhu di Mina

Ketika menggunakan kamar mandi, bagusnya sekalian aja buang hajat, mandi, gosok gigi dan wudhu daripada nanti wudhunya harus antri lagi diluar. Jangan terlalu lama menggunakan kamar mandi, Anda harus mempunyai kesadaran tinggi karena antrian setelah kita masih banyak jangan sampai membuat orang lain jengkel terhadap ketidakpedulian kita.

Kamar Mandi di Arafah

Kamar Mandi / Toilet di Mina

Tempat wudhu juga terbatas, biasanya disediakan 8 kran air wudhu. Pergunakan kamar mandi sesuai peruntukanya, kadang kaum hawa ini yang sering kurang peduli mereka ada juga yang nyelonong menggunakan kamar mandi laki-laki.



Interior Tenda di Mina




Kran Minum Air Panas, di Mina



Dispencer Disepanjang Jalan menuju Jamarat

Air panas dan dingin disediakan selama JCH berada diperkemahan Arafah dan Mina. Khusus di Mina air panas sapat Anda peroleh di kran-kran yang disediakan dibelakang dapur yang ada. Air panas ini sayangnya hanya sampai 70 derajat celcius, nah kalau untuk memasak mie instant rasanya agak kurang matang jadinya. Airnya juga terasa banget kaporitnya. Jadi usahakan bawa alat coffee heater untuk memasak air dari botol air mineral atau air dari galon dispencer yang disediakan disetiap tenda. Disepanjang perjalanan dari Ajiziyah ke tempat jamarat di Mina, banyak tersedia dispencer dipinggir jalan. Air dari dispencer ini langsung dapat diminum. Dengan adanya fasilitas ini memudahkan kebutuhan air minum bagi JCH yang bergerak menuju Mina dan sebaliknya ketika akan melakukan Tawaf Ifadah.




Peta Perkemahan Mina dan Jamarat

Peta perkemahan dipajang dibeberapa tempat yang memudahkan JCH untuk mengetahui lokasi tenda jamaah selama bermalam di Mina. Anda dapat memphoto peta ini untuk dimanfaatkan jika sewaktu-waktu tersesat selama diperkemahan Mina. Tetapi jika Anda sudah membuat photo copynya selagi di tanah air, maka akan sangat bermanfaat untuk digunakan disana. Kebutuhan peta ini khususnya untuk Anda yang tidak ingin ketergantungan dengan pembimbing haji, tetapi kalau selalu bergerak berdasarkan kelompok KBIH, maka peta-peta ini tentunya tidak terlalu bermanfaat bagi Anda.

Toilet di ruang tunggu King Abdul Aziz, Jeddah


Under Construction..........